Kisah Nyai Pohaci Berbenah Diri

Desa Binangun, sekitar 27 kilometer dari Kota Garam, Rembang mencatat sejarah baru pada 1403. Laksamana Cheng Ho berlabuh di Teluk Regol, Rembang, membawa padi campa. Era bercocok tanam padi sawah pun dimulai. Ratusan tahun berlalu, padi campa terlupakan dan muncullah padi-padi hibrida untuk menjawab tuntutan zaman.

Desa Binangun, sekitar 27 kilometer dari Kota Garam, Rembang mencatat sejarah baru pada 1403. Laksamana Cheng Ho berlabuh di Teluk Regol, Rembang, membawa padi campa. Era bercocok tanam padi sawah pun dimulai. Ratusan tahun berlalu, padi campa terlupakan dan muncullah padi-padi hibrida untuk menjawab tuntutan zaman.
Padi campa cuma salah satu bawaan laksamana asal daratan Yunan, Cina, itu. Bersama padi, ikut pula diperkenalkan ketan hitam, mangga, tebu, delima, dan ayam campa. Beberapa peralatan sehari-hari: timbangan gandul, penumbuk padi, pemecah kulit gabah, pemisah biji jagung juga menjadi tontonan baru bagi penduduk Nusantara.

Uluran tangan Cheng Ho bersambut. Benih padi campa ditanam di hutan yang sengaja dibabat dijadikan sawah. Jonathan Rigg, ahli geografi dari University of Durham, Inggris, mencatat, pada abad ke-10, Jawa menjadi eksportir beras ke berbagai negara. Sekretaris Cheng Ho pun menulis, di Jawa mampu menuai padi dua kali setahun, padahal di Cina cuma setahun sekali.

Revolusi Hijau
‘Sampai awal 1960-an, padi tetap dibudidayakan secara tradisional di ladang atau sawah tadah hujan,’ kata Dr Bambang Suprihatno, MSc, peneliti Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BBP Padi). Petani tidak mengenal pupuk, varietas unggul, tandur jajar, tanam serempak, apalagi mengenal pestisida. Varietas padi yang ditanam jenis lokal yang memiliki umur panjang, anakan sedikit, dan daya hasil rendah seperti mas, intan, cahaya, fajar, pelopor, bengawan, peta, dan jelita. Pada masa itu produktivitas padi di Indonesia hanya 1-1,5 ton/ha. Namun, jumlah itu tetap memadai untuk 90-juta penduduk Indonesia.

Fenomena revolusi hijau pada 1965 mengimbas ke Indonesia. Tahun itu muncul varietas padi sawah pertama. ‘IR-5 dan IR-8-dilepas dengan nama peta baru/PB-5 dan PB-8-yang berproduksi tinggi, responsif terhadap pemupukan, dan berumur genjah, sehingga dapat melipatgandakan hasil,’ kata Dr Irsal Las, kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat, Bogor. Produktivitas PB-5 dan PB-8 5-8 ton/ha dari tiga kali panen setahun. Sedangkan padi lokal hanya 2-4 ton/ha yang diperoleh dari satu atau dua kali setahun.

Sayang, beras PB-5 dan PB-8 pera, sehingga kurang berkembang. Beras itu diperbaiki mutunya sehingga lahirlah varietas-varietas baru yang pulen dan berdaya hasil tinggi misalnya cisadane yang muncul pada 1980 berasal dari padi-padi pera itu.

Selain meningkatkan mutu varietas, pemerintah juga giat mencanangkan program Panca Usaha Pertanian. Aktivitasnya membangkitkan pendirian beberapa pabrik pupuk terutama Urea, ZA, dan TSP, lahirnya alat pengolah tanah seperti traktor tangan, pemroses hasil pertanian di antaranya perontok gabah dan huller, serta pendirian industri pestisida. Berbagai lembaga diikutkan dalam Bimbingan Masal (Bimas).

Program Intensifikasi Pertanian memaksa petani menggunakan Kredit Usaha Tani (KUT) agar sasaran intensifikasi tercapai. Puncak keberhasilan ditandai dengan swasembada padi pada 1984. Jika pada 1972 produksi padi nasional sebesar 20-juta ton dengan produktivitas 3,21 ton/ha, pada 1984 meningkat sebesar 38,14-juta ton dengan produktivitas 3,91 ton/ha.

Landai
Namun, kegembiraan itu hanya sekejap. Peningkatan produksi padi hanya tercecap sampai awal 1990. Data Badan Pusat Statistik menyebutkan pertambahan produksi padi nasional era 1974-1980 sebesar 4,8% per tahun; 1981-1990 sebesar 4,35%. Angka itu turun pada 1991-2000 menjadi 1,32%. Rata-rata produksi padi per hektar juga mengalami penurunan. Pada 1973-1980 peningkatan produksi 0,29% dan 1981-1990 sebesar 3,03%. Pada 1991-2000 hanya 1,15%, bahkan pada beberapa tahun berikutnya bernilai negatif.

Biang keladinya penggunaan pupuk dan pestisida yang merusak tanah dan lingkungan. Akibat pemakaian pupuk anorganik terus-menerus dan takarannya selalu ditingkatkan, tanah mengalami degradasi.

Pestisida yang digunakan bertubi-tubi memunculkan generasi hama dan penyakit yang lebih tangguh daripada sebelumnya. Akibatnya, varietas unggul yang dimunculkan saat hama penyakit makin tangguh, menenggelamkan varietas asli petani penghasil nasi pulen dan wangi. Itulah kegagalan di balik prestasi swasembada beras.

Padi hibrida
Tiga puluh tujuh tahun setelah swasembada beras, jumlah penduduk berlipat menjadi 205-juta jiwa Sementara luas panen hanya bertambah menjadi 15 -juta hektar. ‘Untuk itulah perlu menerapkan cara-cara bercocok tanam yang efektif dengan teknologi pertanian dan harus dimulai dari sekarang,’ kata Dr A. Satoto, peneliti BBP Padi. Sebab, kebutuhan padi di Indonesia pada 2025 diperkirakan sebesar 70-juta ton. Jika luas lahan dan kualitas lahan tetap, pada 2025 produksitivitas padi nasional harus 6 ton/ha. Padahal, rata-rata nasional saat ini hanya 4,4 ton/ha. Padi hibrida menjadi jawaban atas persoalan itu di Jepang, Amerika Serikat, Cina, Filipina, dan India. Di Indonesia sendiri, padi hibrida mulai diteliti pada 1986 dengan mengintroduksi dari Cina. Sayang harga bibitnya mahal sehingga jenis padi ini tidak berkembang di Indonesia.

Padahal, produktivitasnya tinggi mencapai 12 ton per hektar sehingga pendapatan petani meningkat. ‘Bandingkan jika 4 bulan menunggu, sehektar hanya 5 ton dengan harga murah. Kan lebih baik investasi lebih tinggi di awal. Saat panen kita lebih untung,’ kata Fadel Muhammad yang mengembangkan padi hibrida berpupuk organik di Provinsi Gorontalo.

‘Setiap varietas padi hibrida mempunyai kemampuan berbeda dalam berproduksi. Varietas yang cocok dikembangkan di sebuah wilayah belum tentu cocok di wilayah yang lain,’ kata Dr Satoto yang meneliti padi hibrida sejak 1986. Dengan kata lain, varietas padi hibrida memiliki sifat spesifi k lokasi, terutama ketahanan terhadap hama penyakit. Oleh sebab itu pengembangan varietas hibrida dilakukan terbatas di daerah yang tidak endemik hama dan penyakit.

‘Arah dan sasaran utama perakitan varietas padi hibrida ke depan adalah menghasilkan varietas yang benar-benar adaptif di Indonesia, tahan terhadap berbagai hama dan penyakit utama dengan mutu beras lebih baik,’ ungkap Satoto. Saat ini BBP Padi memiliki beberapa galur untuk perakitan varietas unggul hibrida yang berpotensi produksi 7,0 ton-11,7 ton/ha serta lebih tahan terhadap hama dan penyakit utama. Dengan begitu swasembada beras bisa terulang tanpa berdampak buruk di masa depan. Dan Nyai Pohaci-dewi padi dalam budaya Sunda-pun tersenyum.

(Vina Fitriani).

(Trubus Majalah Pertanian Indonesia)