Tidak ada enaknya jadi pengangguran. Sekumpulan pemuda di Kelurahan Kebonsari, Kota Pasuruan, berusaha mengatasi masalah pengangguran dengan jalan melakukan budidaya jamur tiram. Walau semuanya dilakukan secara swadaya, namun kini produknya sukses di pasaran.Ada yang berbeda jika sempat berjalan-jalan di salah satu sudut Kelurahan Kebonsari. Meski dekat dengan lingkungan padat penduduk, para pemuda di kelurahan tersebut nekat membuat areal budi daya jamur. Khususnya jamur tiram yang banyak diminati pasar.

Cerita tentang asal muasal budi daya jamur ini diungkap oleh Rahmad Tjahyono, koordinator Pemuda pemberdayaan jamur Kelurahan Kebonsari. Dia mengaku, tertarik menghimpun kekuatan warga setempat yang seusia dengannya karena masih banyak yang menganggur. “Sebagian benar-benar tidak punya pekerjaan. Kalaupun punya pekerjaan, hanya serabutan. Dulunya, mereka hanya punya aktivitas ngopi di warung. Ngobrol ngalor ngidul. Tidak bisa menghasilkan uang. Malah untuk rokok, atau uang kopinya bisanya ngutang,” tutur Rahmad terus terang.

Tanpa disengaja, mereka dapat tantangan dari salah seorang pengepul jamur yang sudah punya pasar lokal. Informasi yang mereka dapat, dengan permintaan yang luar biasa, stok jamur di pasaran sangat minim.Tantangan pasar yang cukup menggiurkan, membuat mereka tergugah. Mulailah mereka mencoba usaha baru itu. Belajarnya otodidak. Hanya baca-baca buku tentang cara budidaya jamur, sambil sinau ke salah seorang petani jamur merang yang sudah lebih dulu berhasil. Itupun dicari di lokasi budidaya jamur yang paling dekat.Akhirnya, keputusanpun diambil. Mereka memilih modal swadaya. Tentu saja uangnya dikumpulkan dari hasil patungan. Uang yang terkumpul dari kumpulan pemuda ini sangat terbatas, hanya sekitar Rp 2 jutaan. Tapi, mereka tidak patah arang. Budidaya jamur tiram itupun dirintis dengan sebuah kumbung (kandang jamur) kecil di areal terbuka, milik salah satu dari mereka.Ternyata, apa yang menjadi impian mereka terwujud. Proyek swadaya mereka sukses dipanen. Dalam hitungan 2 bulan saja, mereka sudah bisa panen jamur tiram. Setiap harinya mereka bisa panen 5 kilo jamur. Harganya pun tidak murah. Karena bisa laku Rp 12.500, per kilonya.”Melalui budidaya jamur ini kami berharap para pengangguran tidak meratapi nasibnya, namun mereka terus berjuang untuk mengatasinya. Karenanya kami bermaksud menyebarkan teknologi pengelolaan budidaya jamur ini kepada pemuda-pemuda lainnya. Alhamdulillah jika Pemkot Pasuruan nantinya ikut membantu kami memberdayakan pemuda yang lain,” tandas Rahmat Tjahyono. Karena hasil yang masih sedikit, untuk pemasarannya mereka bekerjasama dengan ibu-ibu PKK di Kelurahan Kebonsari. Hasil panenan mereka tidak pernah tersisa.  Sebab, rasanya yang selangit, sedikit kenyal, dan dianggap sebagai makanan kesehatan pengganti daging membuat jamur kian jadi primadona. Kesuksesan para pemuda inipun berlanjut. Tapi sebelumnya sempat mengalami kemacetan karena alasan kekurangan modal. Lagi-lagi keputusannya tanggung renteng, hingga terkumpul lagi modal sebesar Rp 3 juta. Namun ketika itu hasilnya masih saja tidak optimal dan terpaksa macet.

Untunglah, semangat mereka yang membara mendapat perhatian pemerintah. Tanpa diminta, proyek kecil-kecilan pemuda pengangguran itu dikucuri dana rangsangan dari PAM DKB yang merupakan program bantuan akibat dampak kenaikan BBM. Nilainya tidak sedikit. Sekitar Rp 18 juta. Perlahan tapi pasti, produktivitas jamur tiram itupun kembali bangkit.“Prospek pasar untuk komoditas jamur ini sangat menjanjikan. Untuk kalangan rumah tangga di Kelurahan Kebonsari saja, kami tidak dapat mencukupinya. Sekarang ini, malah sudah banyak permintaan pasar di daerah lain. Bahkan sampai Kabupaten Pasuruan. Tapi sayang, kami belum bisa memenuhi permintaan itu,” tukas kata Novie Cahyadi, bagian pemasaran jamur tiram pemuda Kelurahan Kebonsari. Radar Bromo sempat melihat langsung kondisi kumbung yang dibangun di atas lahan seluas 6 kali 10 meter itu. Di tumpukan jerami yang memenuhi rak-rak kumbung tersebut banyak dipenuhi jamur tiram. Bahkan diantara jamur-jamur tiram, terdapat satu jamur tiansi yang berwarna merah. “Jamur tiansi ini harganya mahal karena berkhasiat untuk mengobati berbagai macam penyakit. Harga jamur tiansi saat ini mencapai Rp 75.000 setiap ons dan biasanya pertumbuhannya juga sulit,” terang bagus, Bagian perawatan pemuda budidaya jamur Kebonsari.

Setelah jamur tiram, mereka berharap bisa menghasilkan jamur tiansi dalam jumlah yang lumayan. Sebab, keunggulan jamur tiansi sebagai obat sudah memiliki pasar khusus yang tidak diragukan lagi. Dengan tambahan konsentrasi pada jenis jamur obat ini, para pemuda itu menginginkan bisa menambah lagi modal yang sudah dimilikinya sekarang.

Januari 18, 2008

Sashaoyster’s Blog

About these ads