Budidaya ikan hias di Indonesia mempunyai prospek yang sangat baik. Faktor pendukungnya adalah jenis ikan yang beragam, ketersediaan air dan lahan untuk area budidaya. Sumber daya alam yang berlimpah di Indonesia merupakan peluang untuk mengembangakan budidaya ikan hias.
Ratusan jenis ikan hias air tawar yang dikembangkan di Indonesia terdiri dari ikan hias asli Indonesia dan ikan hias introduksi dari luar negeri. Ikan hias asli dan introduksi dapat tumbuh dan berkembang biak dengan baik di Indonesia. Sebagian besar jenis ikan hias relatif mudah dibudidayakan dengan teknologi sederhana serta area budidaya yang relatif terbatas.
Ikan hias dikembangkan untuk memenuhi selera para penggemar ikan hias di dalam dan luar negeri. Tingginya permintaan ekspor selalu lebih besar daripada ketersediaan ikan hias di tingkat eksportir. Ikan hias yang dijual ke mancanegara tidak seluruhnya merupakan hasil budidaya, tetapi juga dari tangkapan di alam yang tidak bisa terjamin jumlah dan kontinuitasnya. Oleh karena itu, usaha budidaya ikan hias air tawar berpeluang besar untuk terus dikembangkan dan ditingkatkan melalui intensifikasi dan ekstensifikasi pembenihan maupun pembesarannya.

Ikan hias dapat dibudidayakan dalam wadah seperti akuarium, bak dan kolam.
1. Akuarium
Akuarium merupakan wadah pemeliharaan ikan skala kecil berupa bangun kubus/balok yang terbuat dari kaca/plastik bening. Untuk kegiatan pembesaran ikan hias yang menggunakan akuarium sebaiknya berbentuk persegi panjang dengan ukuran beragam seperti 60 x 40 x 30 cm (volume air 72 liter) atau 80 x 50 x 30 cm (volume air 120 liter). Ketebalan kaca minimal 5 mm.
2. Bak
Bak dapat dibangun dari semen maupun kayu yang dilapisi plastik/ terpal tahan air. Ukuran bak bermacam-macam, mulai dari bak berukuran kecil yang hanya dapat diisi air 20 liter hingga bak berkapasitas 1-2 m2. Namun, berapa pun ukuran luasnya, ketinggian bak cukup sekitar 50-75 cm.
3. Kolam
Jenis dan tekstur tanah merupakan unsur yang sangat penting, karena tanah tersebut harus mampu menahan tekanan air kolam dan menampungnya, sehingga rembesan air ke dasar kolam maupun ke badan pematang dapat ditekan seminimal mungkin. Keadaan tekstur tanah ditentukan oleh komposisi kandungan unsur-unsur pembentuk tanah seperti persentase kandungan liat, lempung dan pasir. Komposisi ini harus merupakan paduan yang kokoh, kuat dan kompak sehingga tanah kolam akan mampu menahan air, terlebih-lebih apabila tanah kolam akan digunakan untuk pembuatan pematang. Menurut beberapa pengalaman, jenis tanah tekstur liat dan liat berpasir merupakan tanah yang cocok untuk pembangunan pematang kolam, karena tanah yang terlalu banyak mengandung pasir tidak cocok untuk pembangunan kolam.
3.1 Konstruksi Kolam
Bentuk kolam dapat berupa persegi panjang, bujur sangkar, bulat ataupun bentuk lainnya, tergantung ketersediaan lahan. Dalam pembangunan kolam, yang perlu diperhatikan adalah pertimbangan ekonomis dalam pembangunan dan pemeliharaan sesuai kegunaan yang diharapkan. Beberapa komponen utama pada setiap pembuatan kolam adalah pematang, saluran atau pintu pemasukan dan pintu pengeluaran air, caren/parit dan tempat penangkapan/pengumpulan ikan sewaktu panen.
Kemalir dan kobakan digunakan sebagai pelindung ikan dari sinar matahari dan penampungan panen. Kemalir dibuat dengan lebar 50-200 cm dan kedalaman 20-50 cm tergantung luas kolam. Pada bagian hilir, caren dibuat melebar (2×2×1 m) sebagai area penangkapan ikan saat panen. Semakin banyak jumlah ikan maka semakin besar pula ukuran caren.
3.2 Pintu Pemasukan dan Pengeluaran Air
Pintu pemasukan air : dipasang saringan untuk mencegah masuknya kotoran maupun ikan liar. Pintu pengeluaran air dapat berupa pintu monik atau siphon.
Pintu monik dibuat dari semen dan terdiri dari bagian kotak dan pipa pengeluaran. Bagian kotak dipasang papan penyekat yang terdiri dari dua lapisan (di tengahnya diisi tanah) dan satu lapis saringan. Tinggi air yang dikehendaki diatur dengan ketinggian papan
Pintu siphon terdiri dari pipa paralon yang dipasang di dasar kolam di bawah pematang dengan bantuan pipa L mencuat ke atas seuai ketinggian air kolam yang dikehendaki
3.3 Persiapan Kolam
Kolam tanah perlu dipersiapkan dengan baik, dengan tahapan sebagai berikut: Persiapan kolam sebelum tanam adalah sebagai berikut :
• Pengeringan kolam
• Pengolahan dasar kolam, perbaikan pematang, perataan tanah.
• Untuk mencegah kebocoran, dinding kolam bila perlu dapat dipasang plastik (bisa menggunakan plastik polyethylene-PE)
• Pengapuran sebelum diisi air dengan dosis 50–100 gram/m2
• Pemupukan; pupuk kandang sebanyak 250-500 gram/m2
• Pengisian air setinggi 80-100 cm; dibiarkan selama 3-5 hari bertujuan untuk menumbuhkan pakan alami.
Penulis : Admin SubDit  DJPB BUDIDAYA AIR TAWAR

Rabu, 03-06-2009

Iklan