Bila klorofil diibaratkan pabrik roti, karbondioksida adalah tepung; sinar matahari, gas elpiji. Karbondioksida diubah menjadi glukosa setelah bertemu air. Banyaknya karbondioksida yang diserap tanaman dalam proses fotosintesis, antara lain ditentukan oleh mutu klorofil. Indikasi daun yang mempunyai mutu klorofi l bagus, menurut Yos Sutiyoso, pakar tanaman di Jakarta, tampak hijau gelap. Inti butir klorofil berupa magnesium. Oleh karena itu jika kekurangan magnesium, daun berubah kekuningan. Daya serap karbondioksida juga dipengaruhi oleh luas permukaan daun secara keseluruhan. Meski daun saman kecil-seukuran koin-tetapi secara keseluruhan lebih banyak jumlahnya ketimbang daun jati yang lebih lebar. ‘Kalau dihitung-hitug, jadi lebih lebar daripada daun jati,’ kata Yos Sutiyoso. Ukuran daun yang kecil justru menguntungkan. Sebab, sinar matahari dapat menjangkau daun-daun di bagian dalam tajuk. Tinggi saat berbuah Fase pertumbuhan tanaman juga mempengaruhi daya serap karbondioksida. Menurut Endes N Dahlan, dosen Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, pohon yang berbunga dan berbuah memiliki laju fotosintesis lebih tinggi. Soalnya, buah terdiri atas protein yang notabene tersusun dari karbohidrat atau glukosa, nitrogen, sulfur, dan fosfat. Glukosa itu dihasilkan dari proses fotosintesis. Artiya, ketika pohon tengah berproduksi, ia memerlukan lebih banyak glukosa untuk membesarkan buah daripada saat tidak berproduksi. Glukosa hanya dihasilkan pohon ketika fotosintesis sehingga laju fotosintesis pun meningkat. Akibatnya serapan karbondioksida juga lebih banyak. Oleh karena itu menurut Dr Arif Yudiarto, periset Balai Besar Teknologi Pati, banyaknya karbondioksida yang terserap dapat dihitung dengan mengetahui volume glukosa. Endes N Dahlan mengatakan umur daun juga mempengaruhi banyaknya serapan karbondioksida. ‘Daun muda umumnya memiliki laju fotosintesis rendah dan meningkat dengan bertambahnya umur daun,’ ujar doktor Ilmu Kehutanan alumnus Institut Pertanian Bogor itu. Begitu daun tua, berubah warna menjadi kuning lantaran klorofil rusak. Bila konsentrasi karbondioksida meningkat, hasil fotosintesis pun membubung. Itulah sebabnya, di Belanda karbondioksida dimanfaatkan untuk meningkatkan produksi tanaman hortikultura di dalam greenhouse. ‘Di Indonesia tak mungkin, karena banyak greenhouse bocor,’ kata Yos. Konsentrasi karbondioksida yang melebihi 2.000 ppm berdampak buruk bagi fotosintesis. Dipelihara Suhu udara dan intensitas sinar matahari berpengaruh secara langsung. Sebab, ketika intensitas sinar matahari rendah, berarti infra merah yang dibutuhkan dalam proses asimilasi itu pun terbatas. Proses itu optimal bila suhu kira-kira 27oC. Yang tak dapat diabaikan adalah air tanah. Jika kekurangan air, maka translokasi air dari akar ke daun pun terhambat sehingga stomata mengecil, bahkan menutup. Jika demikian, karbondioksida tak dapat masuk ke jaringan daun. Padahal, ia adalah bahan utama proses fotosintesis. Dengan begitu, mestinya pohon-pohon penghijauan tak dibiarkan tumbuh begitu saja: tanpa pupuk dan penyiraman. Toh, bila tumbuh optimal mereka menyerap karbondioksida serta polutan dalam jumlah besar. Sehektar hutan mahoni terdiri atas 940 pohon berumur 11 tahun menyerap 25,40 ton karbondioksida per tahun. Belum lagi serapan plumbum, nitrogen oksida, atau polutan lain. Beringin dan puring, misalnya, selain menyerap karbondioksida, juga plumbum alias timah hitam. Sedangkan krey payung Fellicum desipiens penyerap nitrogen oksida; tanjung debu pabrik semen. Mereka juga menyerap karbondioksida yang membahayakan kesehatan dan lingkungan, bila berlebih. (Sardi Duryatmo) Berita Perkebunan Lainnya . Nilam: Strategi di Dataran Tinggi . Cegah Elmaut Datang . Kapur untuk Tumor . Panen Hidup atau Setelah Mati? . Menjemput Wangi Dewi Aphrodite . Para Jagoan Serap Karbondioksida

Oleh trubuson (majalah Trubus)

Jumat, Februari 01, 2008