Pendahuluan

Tanaman tomat merupakan salah satu jenis sayuran buah yang sangat pontensial dibudidayakan di indonesia. Tergantung jenis atau varietasnya, tanaman ini dapat ditanam secara luas dari mulai dataran rendah sampai dataran tinggi. Tanaman tomat yang cocok dikembangkan didataran rendah adalah varietas atau kultivar yang tahan suhu panas dan juga tahan terhadap penyakit layu bakteri.

Beberapa varietas yang  unggul yang cocok dibudidayakan di dataran rendah dan toleran terhadap penyakit layu bakteri serta telah dilepas pemerintah RI dalam beberapa tahun terakhir ini adalah varietas Mirah, Ppal dan Zamrut. Varietas unggul tersebut mempunyai pontensi hasil 30-35 ton/ha dan mempunyai daya tahan simpan buah selama 8-9 hari serta  ukuran buah cukup besar dengan bobot 35-60 gram per buah tomat.

Propinsi DKI Jakarta wilayahnya terdiri dari ekosistem dataran rendah juga sangat pontensial untuk mengembangan tomat dataran rendah tersebut, apalagi didukung dengan kedekatan pasarnya.

Persemaian

Bibit Tomat yang akan ditanam diperoleh dengan menyemai benih tomat bersemaian. Tempat persemaian sebaiknya diberi naungan atap plastik bening agar lubang tanam 1 bibit tanaman tomat setelah benih berjecambah,tutup plastik atau daun pisang dibuka dan dipelihara selama lebih kurang 1 minggu. Setelah itu apabila dimungkinkan dilakukan pembumbungan menggunakan daun pisang dan dipelihara masih pada tempat bersemaian 2-3 minggu sebelum dipindahkan kelapangan.

Persiapan  Lahan

Tanah dicangkul dan dibersihkan dari bulma, kemudian tanah dihaluskan dan diratakan. Selanjutnya dibuat bedengan dengan lebar 1,00-1,20 cm  sedangkan panjangnya disesuaikan dengan kondisi lahan dan tinggi bedengan 20-40 cm untuk lahan kering dan pada lahan sawah sebaiknya menggunakan tinggi bedengan lebih tinggi (50-60) cm untuk pengendalian drainase. Diatas bedengan dibuat lubang tanam sesuai jarak tanam, yaitu jarak lubang antar barisan 60-80 cm dan jarak lubang dalam barisan 40-50 cm. Dengan demikian untuk jumlah tanaman per hektar sekitar 25.000-30.000 Tanaman tomat.

Penanaman

Sebelum tanam, masukan pupuk kandang atau kompos yang telah matang kedalam lubang tanam dengan dosis 10-15 ton/Ha dan pupuk SP-36 Sebanyak 200-250 Kg/Ha

Kemudian lubang tanam ditutup dengan tanah. Bibit yang telah  berumur 4 minggu dari persemaian ditanam dengan hati-hati pada setiap lubang tanam dengan 1 bibit tanaman obat.
Pemupukan

Pupuk kompos/pupuk kandang (10-15 ton/Ha) dan pupuk SP-36 (200-250 Kg/Ha) diberikan sebelum tanam. Sedangkan pupuk urea dan KCI sebaiknya diberikan 2 kali,yaitu setelah tanaman tumbuh (satu minggu setelah tanam) dan umur satu bulan dilapangan. Dosis pupuk tersebut adalah 200 Kg/Ha urea dan 100Kg/Ha KCI,diberikan 2kali masing-masing 1/2  dosis (umur 1 minggu dan 4 minggu). Cara pemberian pupuk adalah dengan membuat alur melingkar sedalam 3 cm dengan jarak 10 cm dari pangkal batang. Setelah pupuk disebar kedalam alur kemudian ditimbun dengan tanah agar unsur hara yang ada pada pupuk tanpa menguap atau tercuci oleh air.

Pemeliharaan tanaman

Lakukan penyiraman apabila tidak turun hujan. Penyiangan dan pembumbungan dilakukan bersama dengan pemupukan kedua (Urea dan KCI) yaitu 4 minggu setelah tanam. Untuk mendapatkan kualitas buah yang baik, lakukan pemangkasan tunas wiwilan, cabang utama maupun pupuk sehingga diperolehklustar atau dompolan antara 3-5 klustar buah/pohon. Lakukan secara hati-hati agar luka tidak diikuti dengan infeksi penyakit. Untuk mengatasi pengaruh fluktuasi temperatur tinggi didataran rendah , dapat dilakukan pemberian mulsa berapa jerami atau sisa daun tanaman kering maupun mulsa plastik hitam perak.

Dengan cara ini, kelembaban disekitar tanaman tomat tetap stabil, buah terhindar dari percikan air hujan maupan pengaruh penyakit tular tanah. Dengan pemeliharaan yang intensif, termasuk upaya pengendalian hama dan penyakit secara terpadu, maka pada umur 3 bulan dari sejak semai, buah tomat sudah dapat mulai dipetik/dipanen. Pemanenan hendaknya disesuaikan dengan tujuan pemasaran. Apabila untuk dikonsumsi langsung dan pemasaran jaraknya dekat, maka dipanen sesudah berwarna merah, tetapi untuk pemasaran keluar daerah dan jarak angkut jauh maka dipanen pada stadia matang hijau sebelum menjadi merah penuh.

Terakhir Diperbaharui ( 18 June 2008 )

LIPTAN BPTP JAKARTA, No.: 03/HN/LIPTAN/BPTP JAKARTA/2004