Pengelolaan padi melalui siklus hidup dianggap mampu menekan biaya produksi dan meningkatkan jumlah serta kualitas padi.

Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah, Drs. Said Tuhuleley, mengungkapkan sejak 2005 hingga tahun ini pihaknya melakukan pemberdayaan secara bertahap bagi masyarakat di sekitar 67 kabupaten yang tersebar di Indonesia. “Masyarakat tersebut umumnya merupakan para nelayan, peternak yang mempunyai usaha mangga, holtikutura, ikan, termasuk petani yang selama ini mengalami hambatan dalam mengelola padi,” ujarnya saat dihubungi redaksi menjelang acara Panen Perdana Padi Sawah, Kamis (16/7) sore.

MPM PP Muhammadiyah bersama MPM PDM Purworejo dan Universitas Muhammadiyah (UM) Purworejo rencananya akan melakukan panen perdana padi sawah yang dilaksanakan Minggu (19/7) di desa Pepe, Kecamatan Pituruh, Kabupaten Purworejo. Acara ini dilaksanakan dalam rangka Gebyar Muktamar satu abad Muhammadiyah yang akan dilaksanakan di UM Yogyakarta , Juli 2010.

Said menjelaskan saat ini usaha pertanian, khususnya di pulau Jawa dan Bali mengalami hambatan karena mahalnya pupuk urea saat musim tanam tiba. “ Para petani sekarang ini sudah terbiasa menggunakan pupuk kimia seperti pupuk urea dalam mengelola padi. Menjadi hal biasa pula apabila pupuk tersebut akan sulit dicari oleh para petani saat musim tanam tiba. Akibatnya, proses produksi padi pun menjadi lebih mahal,” jelas Said.

Selain itu, Said menuturkan hambatan lain bagi para petani adalah penggunaan pupuk kimia yang digunakan secara berlebih oleh mereka justru menjadikan rendahnya kualitas tanah untuk menanam padi. “Rendahnya kualitas tanah tersebut mengingat jumlah pupuk kimia dan pestisida yang terkandung di dalam tanah berlebih sehingga hal ini menjadikan tanah menjadi rusak yang akibatnya peningkatan produksi padi pun sulit dicapai,” lanjutnya.

Melihat kondisi diatas, MPM PP Muhammadiyah pun menyadari perlunya pendampingan bagi para petani demi mengurangi biaya produksi penanaman padi dan meningkatkan jumlah serta kualitas produksi padi untuk mengembalikan unsur hara.

Selama melakukan pendampingan, Said memaparkan rata-rata nasional terhadap penurunan biaya produksi dapat ditekan hingga 25 %-50%. “Sebagai contoh, biaya produksi untuk mengelola padi yang biasanya menghabiskan senilai Rp 1,5 juta-2 juta, namun setelah diadakan pendampingan, para petani dapat menekan biaya produksi dengan hanya menghabiskan sekitar Rp 700.000,- serta meningkatkan jumlah panen padi yang biasanya hanya menghasilkan 5 ton/hektar menjadi 8-9 ton/hektar,” paparnya.

Penekanan biaya produksi ini karena pihaknya memfokuskan agar para petani melakukan siklus hidup sehingga sasaran kedaulatan pangan tercapai. “Siklus hidup ini dilakukan dengan memanfaatkan limbah ternak yang selama ini dianggap tidak bermanfaat untuk menyuburkan tanah sehingga mereka diharapkan tidak perlu menggunakan pupuk kimia lagi yang berarti dapat menekan biaya produksi. Sementara itu, limbah pertanian yang berupa jerami dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak,” terang Said. Dengan sasaran kedaulatan pangan diharapkan agar petani dapat mandiri dalam mengusahakan pangan bagi masyarakat.

Namun Said mengaku kendala yang dihadapi dalam pendampingan tersebut adalah masih adanya mindset petani yang selama ini telah terbiasa dengan penggunaan pupuk kimia. “Mindset ini tak bisa diubah dengan segara namun butuh kesabaran dengan memberikan pemahaman petani mengenai pentingnya mengembalikan unsur hara,” tandasnya.

Jumat, 17 Juli 2009

Universitas Muhammad, Yogyakarta