Pendahuluan

DKI Jakarta sebagai kota metropolitan yang padat akan penduduk dan gedung-gedung yang menjulang tinggi ternyata masih mempunyai lahan sawah kurang lebih seluas 2700 hektar.

Untuk memenuhi kebutuhan pangan yang terus meningkat maka lahan sawah irigasi yang masih tersedia dapat diusahakan untuk produksi padi dengan varietas unggulan yang produktif spesifik lokasi.

Pada varietas unggul tipe baru (VUTB) Giliran dirancang memiliki sifat yang lebih baik, antara lain adalah : 1). Batang kokoh dan pendek (90-100 cm) sehingga tidak mudah rebah, 2).  Jumlah anakan sedikit hingga sedang (8-12 batang) dan semuanya produktif, 3). Malai panjang dan lebat serta produktivitas 10-15% lebih tinggi dari IR 64, 4). Perakaran banyak dengan jangkauan yang dalam dan menyebar sehingga ralatif toleran   kekeringan.

Selain itu, sifat penting lainnya yang dimiliki VUTB adalah berdaun tegak, tebal dan berwarna hijau tua. Sifat ini menunjukkan bahwa VUTB memiliki kemampuan fotosintesis yang lebih baik sehingga produktivitasnya lebih tinggi dari VUB (Varietas Unggul Baru ) sebelumnya.

Cara Budidaya Padi Varietas Unggul Tipe Baru Gilirang

Pemilihan Benih

Pilih benih yang bersertifikat, minimal berlabel ungu, tentunya juga yang bernas. Benih direndam dengan air larutan garam 3% atau pupuk ZA kosentrasi 1 Kg ZA/2,7 liter air, ambil benih yang tenggelam untuk disemai. Untuk daerah endemis hama penggerek batang, sebelum benih disebar diperlukan dengan menggunakan insektisida Filpronil.

Persemaian

Siapkan lahan persemaian seluas 4% atau 400 meter persegi per hektar pertanaman. Setelah itu bajak dan genangi selama 2 hari lalu keringkan selama 7 hari, lalu berikan pupuk organik dan sekam, masing-masing sebanyak 2 Kg/m2. Kemudian bajak lagi dan genangi selama 2 hari, lalu keringkan selama 7 hari. Ratakan dan bersihkan dengan garu, buat bedengan setinggi 5-10 cm2 dengan lebar 100-120 cm2.

Dilakukan aplikasi herbisida selama 5 hari sebelum sebar benih. Benih disebar dengan kepadatan 40-50 gram per meter persegi. Kemudian satu minggu setelah sebar diberikan

x 10 cm2. Kemudian setiap lubang tanam diisi 1-3 bibit tanaman (sebaiknya kondisi tanah macak-macak). Yang perlu diperhatikan lagi adalah penyulaman, dilakukan paling lambat seminggu setelah tanam.

Pemeliharaan

Pengatura air, sampai pada 2-3 hari setelah tanam (HST) atur air pertanaman pada kondisi macak-macak. Genangi sesuai dengan pertumbuhan tanaman, ketinggian air mencapai 5-10 cm2. Sedangkan pada saat-saat tertentu dapat dikeringkan mengacu pada system intermitten. Penggunaan air, sampai pada 2-3 hari setelah ditanam (HST) atau air pertanaman pada kondisi macak-macak. Genangi sesuai dengan pertumbuhan tanaman, ketinggian air mencapai 5-10 cm. Pada saat-saat tertentu dapat dikeringkan lagi mengacu pada system intermitten.

Pemupukan : Pemupukkan dilakukan 3 kali, pada umur 20 HST berupa 75 kg urea, 50 kg SP36 dan 50 kg KCI per hektar. Pemberian pupuk berikutnya 75 kg urea/ha atau berdasarkan hasil pembacaan “Bagan Warna Daun” (BWD) yang dilakukan tiap minggu. Pada tiap petak ambil 10 titik pengamatan secara acak, bila warna daun mendekati skala 4 berikan pupuk susulan. Monitoring dengan alat BWD dihentikan pada saat sesudah keluar malai 50%.

Penyiangan  : Pada saat fase anakan maksimum dan fase primordi lakukan pengeringan dan penyiangan.

Pengendalian Hama dan Penyakit : Tanaman dilakukan pengamatan terhadap keberadaan hama dan penyakit tanaman, dan bila perlu dapat digunakan pestisida dengan dosis sesuai anjuran.

Panen

Panen dilakukan bila tanaman matang fisiologis (kira-kira 75% rumpun tanaman malainya menguning), potong bagian tengah batang dengan sabit berderigi, lakukan perontokan dengan mesin perontok, keringkan sampai mencapai kadar air 12-14% kemudian dikurangi. Giliran, adakah salah satu varietas padi tipe Baru(PTB) bedaya hasil 10-15% lebih tinggi dari vaietas IR64, Ciherang atau Way Apaburu. Ciri-ciri Gilirang adalah : 1). Umur tanaman: 120 hari setelah tanam, tekstur nasi : pulen, potensi hasil : 6-8 ton/ha GKG, Ketahanan : tahan terhadap wereng coklat biotipe 1,2,3. Tahan HDB strain III, agak tahan IV dan rentan strain VIII, 2). Wilayah pengembangan:  lahan kering, musim hujan, sawah musim kemarau. Lahan tipe aluvial dan podsolik. Ketinggian tidak lebih dari 300 dpl.

16 May 2008