Supertoy HL-2 memang menimbulkan kontroversi. Namun dari hasil penemuan ini ada hal yang perlu dikaji oleh para peneliti padi lebih mendalam. Untuk selanjutnya direkomendasikan layak atau tidak layak berdasarkan penelitian ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.

Supertoy HL-2 diperkenalkan sebagai varietas baru yang memiliki banyak keunggulan. Antara lain sekali tanam tiga kali panen dalam setahun. Selepas panen pertama, batang dan yang tersisa akan tumbuh terus menjadi tanaman baru. Panen kedua-pun dipetik. Setelah panen kedua, batang sisa masih tumbuh lagi dan terjadilah panen ketiga. Sehingga petani tidak perlu berlelah-lelah mengolah tanah dan membuang biaya tambahan. Dari hasil riset panen pertama setelah tanaman berusia 105 hari menghasilkan 14,6 ton/per hektar, panen kedua berusia 96 hari sebanyak 11,9 ton dan panen ketiga 90 hari sebanyak 11,2 ton. Kalau padi biasa, petani setelah panen, lahan harus diolah ulang. Petani harus mencangkul, membuat persemaian bibit baru dan bercocok tanam kembali.

Terhadap penemuan ini ada banyak komentar. Seorang peneliti menyatakan bahwa sekali tanam panen tiga kali secara ilmiah belum ada bukti nyata bisa terjadi. Jadi apa yang ditawarkan Supertoy ini baru sebatas klaim secara ilmiah belum ada bukti nyata. Peneliti lain menyatakan bahwa padi Supertoy ini termasuk dalam kelompok jenis padi tipe lama yang lazim dibudidayakan petani hingga sekitar dekade tahun 1950-an. Dikenal dengan nama pari jawa. Memiliki kelemahan yaitu tidak tahan hama dan jumlah panenan sedikit. Metode rattoning (menyisakan batang padi) yang digunakan untuk memanen padi Supertoy HL-2 dikhawatirkan memicu ledakan hama dan penyakit padi. Penyakit yang mungkin meledak adalah wereng, penggerek batang dan ganjur. Dengan metode rattoning ini hama dapat menyebar ke ratusan hektar sawah dalam semalam.