Bila mendengar kata senjata biologi (biology weapon/bioweapon), pasti yang pertama tersbesit adalah penyakit-penyakit menular pada manusia seperti antrax, botulinum, ebola, cacar ganas, maupun penyakit pada ternak seperti sapi gila bahkan flu burung. Tapi jangan salah sangka, saat ini ancaman lain justru datang dari sector pertanian. Suatu perang terselubung untuk menghancurkan sistem ketahanan pangan dan ekonomi suatu negara.

Persenjataan biologi mendapat perhatian sejumlah kalangan pada akhir-akhir ini karena berkaitan dengan kemudahan  pembuatan dan propagasi massa hayati (mikroba) tidak saja oleh ahli biologi/mikrobiologiwan semata tetapi juga mereka yang berpengalaman dalam kerja laboratorium mikrobiologi atau propagasi sel (kultur jaringan). Adanya mikroba bakteri, cendawan dan virus yang bersifat patogen akan sangat bermanfaat untuk “perang hayati” dan banyak anggotanya sangat mudah untuk diperoleh, dikembangbiakkan, dimodifikasi dan disebarluaskan. Walaupun kenyataan  bahwa senjata biologi sangat bermanfaat dalam penanganan kekuatan militer biasa, kemungkinan lain yaitu penggunaan senjata biologi oleh kelompok-kelompok terorganisir sebagai alat dalam usaha penghancuran sistem pertanian suatu bangsa. Sistem pertanian merupakan unsur pokok dalam pembangunan ekonomi suatu negara agraris khususnya di basis negara-negara berkembang seperti kawasan Asia Tenggara dan sebagian Asia Timur, khususnya lagi Indonesia sebagai negara dengan sumber pendapatan sebagian besar penduduknya berasal dari pertanian.

Berdasarkan data Sakernas yang telah diolah kembali (UPPLS, 1999) jumlah tenaga kerja pertanian (petani) masih mendominasi hampir separuh dari tenaga kerja nasional. Pada tahun 1992-1998 terlihat bahwa mulai tahun 1992-1997 jumlah petani terus menurun, tetapi karena adanya krisis ekonomi mengakibatkan sebagian tenaga kerja yang keluar dari sektor pertanian kembali lagi  menekuni bidang pertanian sehingga tahun 1998 jumlah petani meningkat.  Hal ini membuktikan bahwa sektor pertanian masih tetap merupakan penyangga dalam penyerapan tenaga kerja akibat meningkatnya jumlah pengangguran. Bagi negara berkembang dengan sector agraris sebagai pondasi utama nya, swadaya pangan menjadi tuntutan penting untuk mencapai ketahanan pangan baik lokal maupun nasional.

Melihat pentingnya sistem pertanian bagi suatu negara agraris seperti Indonesia, maka selayaknyalah kita waspada terhadap segala bentuk peyusupan agen-agen biologis yang berperan sebagai bioweapon. Bahkan dugaan salah satu penyebab runtuhnya Uni Soviet adalah kegagalan pemerintah negara itu menjaga ketahanan pangan. Hal itu disebabkan gandum Uni Soviet selalu terserang penyakit karat batang (Puccinia graminis) yang dibawa oleh turis-turis Barat ke negara itu. Karena kekhawatiran serupa, Amerika Serikat menerbitkan Undang-Undang (UU) Bioterorisme. Dalam UU pengganti UU Karantina Tumbuhan. Disitu disebutkan bahwa patogen penyebab penyakit tanaman dicantumkan sebagai salah satu senjata biologis. Dengan UU itu, kalau ada orang membawa tanaman atau apa pun yang diduga mengandung patogen, ia bisa dikenai ancaman hukuman berat karena dikategorikan teroris. Kasus nyata lain yaitu terinfeksinya lahan kentang di Jawa dan Sumatera Utara akibat benih kentang dari Perancis yang membawa penyakit nematode sista kuning (Globodera rostochinensis) pada Maret 2003. Penyakit ini meyebabkan lahan yang sudah terinfeksi tidak dapat ditanami kentang hingga 15 tahun lamanya. Agen hayati lainnya yang memiliki potensi sebagai agen hayati perusak adalah Magnaporthe grisea pada tanaman padi.

Hal yang sama dapat terjadi pada industri anggrek nasional yang saat ini mulai berkembang. Masalah kompetisi bisnis, ekonomi dan politik dalam bisnis peranggrekan internasional dapat saja menjadi latar belakang adanya penyusupan bioweapon ke suatu negara yang memiliki basis bisnis anggrek. Dengan demikian, kewaspadaan nasional perlu digalakkan sedini mungkin untuk mencegah masuknya jenis-jenis penyakit baru yang berpotensi merusak industri peranggrekan nasional. Cukup banyak jenis-jenis penyakit yang potensial sebagai agen bioweapon untuk menyerang anggrek baik dari golongan bakteri, cendawan maupun virus. Dengan serangkaian kegiatan isolasi, lalu uji coba preferensi inang, kemudian dilanjutkan dengan rekayasa resistensi penyakit dengan induksi kimiawi, lalu diuji kembali dengan metoda postulat Koch, yang disusul dengan evaluasi persentase serangan dan uji resistensi penyakit terhadap pestisida. Dengan serangkaian kegiatan ini, diupayakan untuk ditemukan penyakit dengan tingkat serangan yang lebih ganas (virulensi tinggi), memiliki range inang yang luas (polifag) serta toleran terhadap paparan pestisida dosis tinggi.

Indonesia menjadi negara yang sangat rawan karena beberapa hal, yaitu :

  • Memiliki plasma nutfah anggrek alam terbesar di dunia sebagai modal dasar dalam pemuliaan anggrek dimasa mendatang.
  • Merupakan harta besar bagi Indonesia sekaligus incaran bagi ilmuan-ilmuan botani dan para pemulia tanaman termasuk breeder anggrek di seluruh dunia sebagai modal untuk merakit hybrid-hybrid baru yang unggul, khususnya bagi pesaing di negara-negara Asia, karena mereka memiliki pola iklim yang lebih sesuai untuk anggrek-anggrek dari Indonesia.

  • Termasuk negara yang banyak mengimpor bibit-bibit anggrek dari mancanegara.
  • Bibit impor yang telah diinfeksi dengan mikroba patogen berbahaya dapat menjadi “amunisi” bioweapon saat tiba di Indonesia dan tercampur di lokasi budidaya, dan akan semakin merebak luas dengan cepat seiring dengan distribusi perdagangan lokal.

  • Bisnis anggrek di Indonesia banyak menjadi topangan bisnis skala rumah tangga maupun skala industri besar.
  • Bisnis anggrek dari sektor hulu hingga hilir sedikit banyak mampu memperkuat perekonomian masyarakat di lini terbawah sekaligus terbukanya peluang berkembangnya industri anggrek nasional serta meningkatnya apresiasi perakitan hybrid-hybrid baru yang lebih unggul. Oleh karena itu, peluang ekspor nasional akan semakin meningkat san membuat persaingan bisnis anggrek baik lokal maupun Internasional semakin kompetitif.

  • Mulai bangkitnya industri anggrek nasional untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri yang dahulu selalu ditutup dengan import.
  • Indonesia merupakan negara tropis dengan kelembaban tinggi, sehingga sangat potensial untuk berkembangnya mikroba-mikroba patogen
  • Lemahnya sistem karantina dan pengawasan impor terhadap komoditas pertanian dari luar negeri
  • Peluang masuknya bibit-bibit impor yang telah terinfeksi bioweapon akan semakin lebar

Satu hal penting yang sangat diincar pihak luar adalah kekayaan plasma nutfah anggrek alam yang dimiliki Indonesia, karena dari situlah bahan genetic untuk merangkai anggrek-anggrek hybrid di masa depan. Apabila semua plasma nutfah dan varian-varian unggul telah “ditransfer” ke luar negeri baik melalui perdagangan ilegal maupun penyelundupan….saat itulah tombol roket bioweapon segera dipencet untuk merusak industri budidaya dalam negeri sehingga menciptakan ketergantungan komoditas anggrek (misal bunga potong dll) terhadap pasokan anggrek dari luar. Selain itu, dengan rusaknya kantung-kantung sentra budidaya anggrek nasional, maka ekspor anggrek otomatis juga akan melemah, ditambah dengan peraturan bioterrorisme di manca negara yang semakin ketat yang kesemuanya bermuara pada melemahnya posisi Indonesia dalam bisnis anggrek lokal maupun internasional. Just say goodbay….

Mungkin artikel ini tampak terlalu phobia atau bahkan hiperbola bagi banyak orang, bahkan banyak pula yang tersenyum geli. Fiuh ~_~ !!, namun yang pasti, misi untuk menyampaikan wacana ini telah tersampaikan, sehingga sedikit banyak sudah ada upaya untuk terus meningkatkan kesadaran akan kewaspadaan dini terhadap berbagai kemungkinan. Keep smiling and thinking ^_^!!

By Destario Metusala 07

Monday, February 5th, 2007