Tim dari Indonesia Power UBP Saguling menampilkan manfaat eceng gondok sebagai bahan bakar alternatif, seperti biogas dalam lomba karya inovasi X 2007 PLN Regional III yang berlangsung di kantor PLN Distribusi Bali, Denpasar, Selasa (17/7) kemarin.

Ketua tim HM Sayogo didampingi H. Endang Hadiat dan Asmadi di sela-sela lomba mengatakan, eceng gondok merupakan jenis tumbuhan air yang hidup terapung di permukaan air. Tumbuhan ini dapat berkembang dengan baik pada limbah pertanian dan pabrik.

Tumbuhan ini juga sebagai indikator sebagai pencemaran pada sungai. Tanaman pengganggu (gulma) ini berkembang sangat cepat dan menutupi permukaan air. Dengan begitu, katanya, sinar matahari tidak dapat menembus dasar sungai. ‘’Dengan tertutupinya permukaan sungai, hewan lain yang hidup di dasar sungai sungai menjadi terganggu,’’ ujarnya.

Namun, kata Sayoga, eceng gondok mempunyai peran penting dalam mengurangi kadar logam berat, seperti Zn, Cu, Fe dan Hg. Yang paling menarik dari eceng gondok adalah kandungan selulosanya.

Solulosa itu dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif, seperti biogas. Eceng gondok juga dapat dimanfaatkan sebagai briket, pupuk kompos, pupuk cair, pakan ternak dan kerajinan tangan.

Lebih lanjut dia mengatakan, kandungan amilum dan selulosa yang terdapat pada eceng gondok mempunyai peran penting dalam pembuatan biogas. Setelah melalui tahap hidrolisis, selulosa berubah menjadi beta glukosa. Sementara amilum berubah menjadi alfa glukosa.

Setelah melalui proses fermentasi, keduanya berubah menjadi etanol. Lewat proses dehidrasi, kemudian berubah menjadi etana yang dapat dijadikan bahan bakar alternatif.

Pada kesempatan itu, tim ini juga memperagakan cara kerja alat permentasi yang terbuat dari drum, alat penampung gas dari gas atau plastik. Lewat alat-alat sederhana ini keluar biogas dan menyala dalam kompor.

‘’Prosesnya sederhana, eceng gondok yang masih segar dirajang atau ditumbuk, dicampur air lalu dimasukkan dalam drum permentasi. Dua puluh kilogram eceng gondok menghasilkan gas yang dapat dipakai tujuh hari dan tiap harinya dapat dipakai 30 menit,’’ ujarnya.

Denpasar (BisnisBali)