Keracunan jengkol atau kejengkolan merupakan salah satu sebab payah ginjal akut (acute renal failure), akan tetapi kematian yang disebabkan oleh keracunan ini jarang sekali terjadi.

Penetapan diagnosis keracunan jengkol bagi seorang dokter yang pernah melihat kasus keracunan jengkol dan pernah mencium bau khas jengkol memang tidak terlalu sulit. Anamnesa yang cukup teliti akan mengungkapkan bahwa gejala-gejala keracunan timbul beberapa waktu setelah memakan buah jengkol. Pengobatannya pun tidak terlalu sulit. Dalam rumah sakit diusahakan agar diuresis dapat berlangsung kembali melalui pemberian cairan melalui infus yang dibuat sedikit alkalis dengan natrium bikarbonat.

Dewasa ini telah disepakati oleh para peneliti bahwa keracunan jengkol disebabkan oleh pengendapan kristal-kristal asam jengkol di dalam saluran-saluran traktus urogenitalis, sehingga menyebabkan penyumbatan mekanis. Kristal-kristal asam jengkol yang berbentuk jarum-jarum tajam dalam sedimen urin memang pathognomonis untuk jenis keracunan ini akan tetapi kristal-kristal ini tidak selalu dapat ditemukan.

Apakah asam jengkol itu? Asam jengkol atau djenkolzuur (Belanda), djenkolic acid (Inggeris) atau Djenkolsaure (Jerman) adalah sejenis asam amino berunsur belerang yang terdapat di dalam buah jengkol dalam bentuk bebas; tidak sebagai unsur dalam protein atau bentuk terikat lain. Asam-asam amino dalam alam memang merupakan unsur-unsur penyusun protein. Akan tetapi ditemukan juga dalam alam asam-asam amino yang tidak merupakan bagian dari protein, yaitu asam-asam amino non-protein, seperti citrulline, ornithine dsb.

Bila seseorang memakan buah jengkol, maka asam jengkol akan ikut termakan. Oleh karena di dalam buah sudah berbentuk asam amino bebas, maka untuk penyerapannya tidak perlu mengalami hidrolisa, seperti asam-asam amino yang merupakan unsur-unsur protein. Ini dapat dilihat dari fakta bahwa dalam waktu yang cukup singkat, kadang-kadang kurang dari dua jam setelah memakan buah jengkol, asam amino ini sudah dapat ditemukan di dalam urin pemakan buah. Untuk lebih memahami pengendapan kristal-kristal asam jengkol di dalam gindjal perlu diketahui lebih dahulu beberapa sifat kimia asam jengkol .

Asam jengkol memiliki titik leleh (Melting point) setinggi 300°C — 330°C (decomp). Membentuk kristal-kristal tak berwarna, yang berbentuk jarum atau gelondong (spindle). Asam jengkol tidak berbau. Bau jengkol yang khas tidak disebabkan oleh asam jengkol, akan tetapi oleh hasil uraian asam jengkol.

Sebagai asam amino, asam jengkol bersifat amfoter, yaitu dapat larut dalam asam atau alkali. Akan tetapi oleh karena memiliki struktur kimia yang mirip sekali dengan cystine, yang juga suatu asam amino berunsur belerang, maka seperti juga cystine asam jengkol tidak atau sulit sekali larut dalam air dengan kurun pH biologik.

Timbul pertanyaan : Kalau asam jengkol sulit larut dalam air dengan pH biologik (7.4), bagaimana asam jengkol ini dapat diangkut oleh darah dari usus ke ginjal untuk diekskresikan? Dari penelitian-penelitian dengan cara ultrafiltrasi dan dialisa keseimbangan (equilibration dialysis) diperoleh bukti-bukti bahwa asam jengkol di dalam darah terdapat dalam bentuk larut, yaitu terikat dengan albumin serum.

Ditemukannya berbagai zat yang seharusnya tidak larut dalam air akan tetapi dapat diangkut dalam keadaan larut oleh darah memang bukan hal yang baru. Telah diketahui sejak lama, bahwa zat-zat yang hanya dapat larut dalam lemak atau pelarut-pelarut lemak, seperti caroten, bilirubin, steroid dan berbagai jenis obat bereaksi dengan protein dalam darah membentuk kompleks yang larut dalam darah, sehingga memungkinkan pengangkutannya. Ikatan semacam ini bukan merupakan ikatan kimia, akan tetapi lebih berupa ikatan fisik yang mudah terurai kembali tergantung dari suasana lingkungan.

Apa yang terjadi di dalam ginjal? Dalam ginjal molekul asam jengkol dapat melewati membran semipermeabel dari glomerulus. Albumin sendiri tidak dapat melewati membran ini oleh karena memiliki molekul yang terlampau besar. Jadi kompleks albumin serum dan asam jengkol berdisosiasi sehingga menghasilkan albumin serum dan asam jengkol bebas dan asam jengkol yang bebas ini melewati membran glomerulus dan terdapat dalam ultrafiltrat glomerulus. Masih terdapat kemungkinan bahwa selain filtrasi lewat glomerulus terjadi juga sekresi asam jengkol secara aktif lewat tubuli ginjal, akan tetapi hal ini masih perlu pembuktian lebih lanjut.

Asam jengkol yang sekarang terdapat dalam ultrafiltrat mudah sekali menghablur menjadi kristal oleh karena tidak terdapat lagi protein yang membuatnya lebih larut seperti terjadi di dalam darah. Apalagi di dalam perjalanan selanjutnya terjadi penyerapan kembali sejumlah air oleh bagian menurun dari lekuk Henle. Kesemuanya ini menyebabkan asam jengkol mencapai titik kejenuhan (oversaturated) dan mengendaplah asam jengkol sebagai kristal-kristal berbentuk jarum-jarum yang tajam.

Dengan ini dapat difahami sekarang mengapa pengobatan keracunan jengkol dilakukan dengan pemberian cairan melalui infus dengan maksud membangkitkan kembali diuresis. Penambahan natrium bikarbonat akan mempermudah larutnya kembali kristal-kristal asam jengkol untuk diekskresikan dengan urin.

cermin dunia kedokteran