Sudah lama sekali tidak menikmati rujak bebek (Dibaca:beubeuk) atau rujak tumbuk. Tak hanya di Bandung rujak ini bisa ditemui di kota-kota besar di Indonesia. Entah awalnya dari mana tapi konon kata bebek itu dari bebeg yang dalam bahasa Jawa artinya tumbuk.

Dulu, biasanya menemukan tukang rujak bebek memanggul dagangannya dari rumah ke rumah. Dua buah kotak hijau kecil berisi buah-buahan juga lumpang. Kedatangannya selalu dinanti karena menyegarkan dengan rasa pedasnya. Apalagi dalam panasnya cuaca siang.

Sebelum memulai menumbuk biasanya tukang rujak menanyakan berapa buah cabe rawit yang diinginkan. Masukan gula merah, garam, cabe rawit dan sedikit terasi. Ada juga diantaranya yang memakai bawang putih meski agak jarang.

Buah yang terdiri dari ubi, kedondong, pisang batu, mangga, juga bengkoang diiris-iris dulu lalu di masukan ke dalam sebuah alat tumbuk dari kayu bernama lumpang atau jubleg dalam bahasa Sunda. Alat penumbuk tradisional berbentuk silinder dengan bagian tengah berlubang sampai beberapa centimeter sebelum dasar. Lalu buah-buah yang sudah dimasukan ditumbuk oleh sebilah kayu panjang dengan ujung membulat. Suara tumbukan seperti prosesi khas yang begitu mudah dikenal sebagai proses pembuatan rujak bebek.

Setelah rujak cukup lembut, rujak ditempatkan pada daun pisang kecil yang dibuat menyudut ke bawah atau pincuk. Lalu diselipkan satu lembar kecil daun yang berfungsi sebagai sendok.

Yam, yam, yam, segar, asem, dan pedas. Seperti rujak bebek yang saya nikmati di Warung Lotek Macan, Jalan Macan no 19. Di warung  yang menjual aneka makanan ini menu rujak salah satu primadonanya.

Di antara rujak-rujak lain seperti rujak uleg atau petis, rujak bebeklah yang jadi favorit. Rujak bebeknya ada tambahan nanas namun saya tidak menemukan ada pisang batu khasnya rujak bebek. Disajikan di dalam mangkok dan sedikit berkuah. Tidak terlalu lembut bahkan cenderung seperti potongan-potongan buah yang teratur.

Ada yang berbentuk persegi, meski ada pula yang bentuknya tidak beraturan. Tapi secara keseluruhan tidak menunjukan bahwa buah-buah ini ditumbuk. Ubi warna merah muda pun berbentuk lembaran-lembaran tipis yang kecil seperti diparut. Terlihat kulit luar asam Jawa dan kulit cabe merah hasil tumbukan dalam kuah.

Tapi tak masalah bagaimana prosesnya, toh rasanya sama saja, segar. Meski awalnya tidak begitu terasa pedasnya tapi di tengah perjalanan rasa panas makin menguat di kerongkongan. Satu porsi yang harganya Rp 6 ribu ini tentunya akan membuat mata mengantuk jadi bugar kembali.

Ema Nur Arifah – detikBandung