Negeri kita yang tropis ini memang terkenal dengan buah-buahan yang beraneka ragam. Tercatat dalam prasasti dan kakawin kuno, aneka buah-buahan seperti mangga (Mangifera indica), jambu bol (Anacardium occidentale), salak (Zallaca edulis), nangka (Artocarpus integer), rambutan (Nephelium lappaceum), manggis (Garcinia mangostana), wuni (Antidesma bunius), langsat (Lansium domesticum), jamblang (Syzyqium cumini), jeruk (citrus), durian (Durio zitbethinus), pisang ( Musa), kecapi (Sandoricum koecape) begitu melimpah. Komoditas ini pula yang kerap dijumpai di pasar-pasar desa.

Melimpahnya buah-buahan ini pernah dijadikan kambing hitam oleh Jacob de Bondt alias Bontius, dokter VOC yang juga dokter pribadi J.P.Coen. Sebab banyak pelaut Eropa pada saat mampir ke Nusantara menjadi sakit karena mereka terlalu berlebihan menikmati aneka buah-buahan itu dan nyaris rakus. Walaupun sebenarnya itu kesalahan mereka sendiri karena setelah berbulan-bulan di atas kapal dan kekurangan vitamin, terutama vitamin C, perut mereka diisi dengan bermacam-macam buah-buahan yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

Sementara itu dalam laporan penjelajah William Dampier pada 1697 menyebutkan kelapa (Cocos nucifera) dan pepaya (Carica papaya) merupakan buah-buahan utama, sedangkan durian, mangga, manggis, jeruk besar /jeruk Bali (Citrus maxima), rambutan dan berbagai buah-buahan lainnya silih berganti sepanjang tahun. Bahkan mangga yang masih mengkal pun dijadikan teman makan nasi setelah dibuat asinan. Sejak dibawanya pepaya (Carica papaya) dan nenas (Ananas comusus) dari benua Amerika di penghujung abad 17 ke Asia Tenggara, buah-buahan ini berkembang dengan pesat dan dianggap buah-buahan eksotis oleh para turis yang datang kesini.

Buah-buahan yang sudah masak biasanya dinikmati sebagai pencuci mulut setelah menikmati hidangan utama atau dimakan begitu saja. Sedangkan buah-buahan yang masih mengkal biasanya dibuat manisan, asinan dan rujak. Walaupun terkadang buah-buahan yang sudah masak digunakan juga untuk rujak.

Rujak merupakan jajanan yang sangat populer di Indonesia dan Malaysia. Hampir di setiap sudut dapat kita temui penjual rujak dengan gerobak berkacanya. Biasanya untuk penjual rujak keliling ini, bumbu rujaknya telah mereka persiapkan dan ditempatkan di toples kaca sehingga tidak perlu diolah lagi. Supaya buah-buahannya tetap segar dan dingin, bongkahan kecil es batu diletakkan di antara buah-buahan itu.  Ada pula penjual rujak yang mangkal di kios atau warung.

Khusus untuk penjual rujak yang mangkal ini biasanya mereka mengolah terlebih dahulu bumbunya. Sebuah cobek besar dan ulekan selalu tersedia untuk meramu semua bumbu-bumbu tersebut. Sehingga para pembeli dapat memesan, mulai dari yang paling pedas, sedang, hingga tidak pedas. Serta kombinasi rasa lainnya, seperti misalnya pedas manis, sedang manis, dan sebagainya. Dulu rujak itu biasa dibungkus dengan daun pisang dan disematkan dengan potongan biting (lidi), sekarang biasa menggunakan kertas pembungkus atau plastik.

Bumbu rujak itu sendiri terdiri dari ; cabe merah (lombok), cabe rawit, gula jawa, terasi, asam jawa, garam, terkadang ditambahkan kacang tanah yang telah dihaluskan.
Buah-buahan yang biasa digunakan antara lain; mentimun (Cucumis sativus), nanas (Ananas comusus), bengkuang (Pachyrrhizus erosus), mangga muda (Mangifera indica), kedondong (Spondias dulcis), jeruk Bali (Citrus maxima), jambu air (Eugenia aquea), pepaya muda (Carica papaya), ada pula yang ditambahkan semangka (Citrullus vulgaris) dan melon (Cucumis melon).

Di Malaysia, ada rujak yang dikenal dengan nama rujak Penang. Rujak itu memiliki bumbu yang sama dengan rujak di Indonesia. Bedanya di atas bumbu yang telah diguyur di atas potongan buah-buahan itu ditaburi wijen. Ada jenis rujak yang lain. Rujak itu cukup dikenal di Jakarta. Biasanya dijajakan dengan pikulan. Rujak itu dikenal dengan nama rujak bebeg (baca bêbêg). Juga  menggunakan buah-buahan, tetapi kebanyakan buah-buahan yang masih mengkal, seperti ubi merah mentah (Ipomoea batatas), jambu biji mengkal (Psidium guajava), nangka (Artocarpus integer), mangga muda(Mangifera indica) , kedondong (Spondias dulcis) , jeruk bali(Citrus maxima). Bumbu-bumbunya, seperti cabe merah, cabe rawit, gula merah, terasi, dimasukkan ke dalam alat yang disebut lumpang dari kayu kemudian ditumbuk. Lalu buah-buahan yang telah dipotong-potong itu dimasukkan ke dalam bumbu yang telah halus itu sambil ditumbuk hingga tercampur dan lumat. Rujak itu disajikan dengan takir ( pincuk dalam bahasa Jawa) , daun pisang yang disemat dengan lidi. Harganya pun cukup murah karena buah-buahannya masih mengkal. Mungkin saja, sang penjual memperolehnya dengan gratis hingga ia tak perlu menjualnya terlalu mahal. Saat ini penjual rujak bebeg sudah jarang kalaupun ada hanya dapat dijumpai di pinggiran kota Jakarta. Namun, rujak bebeg ini naik statusnya menjadi sedikit bergengsi. Kita dapat menjumpainya di beberapa pusat perbelanjaan ber-AC, berjejer dengan jajanan lainnya. Meskipun alat pengolahnya masih sama, dengan lumpang kayu.

Rujak pun kerap dikonsumsi para remaja, khususnya anak perempuan. Sambil belajar bersama, atau mengobrol kesana-kemari mereka menikmati rujak. Tak jarang ada undangan yang dibuat oleh para remaja itu dengan mencantumkan acara ‘rujakan’ atau ‘pesta rujak’ di dalamnya untuk memeriahkan acara mereka.

Kaum perempuan yang memiliki hasrat kuat dan tiba-tiba menginginkan makanan yang sangat pedas, terutama makanan dari buah-buahan dapat dianggap sebagai tanda pertama kehamilan. Hal ini yang sering disebut ngidam rujak. Menurut kepercayaan, keinginan ini harus dituruti karena jika tidak akan berakibat buruk pada jabang bayi yang dikandung. Nah, jika sang istri ngidam rujak tengah malam, maka sang suami yang kebingungan mencari penjual rujak. Tetapi bila kelak sang istri hamil, makanan pedas ini justru menjadi pantangan.

Penggerutu atau pengkritik nomor wahid dari Belanda pada awal abad 20, Bas Veth yang membenci Hindia Belanda dan menganggapnya hampir sebagai penyakit, menggambarkan rujak sebagai bentuk yang sama sekali tidak lebih baik dari ‘ambrosia’, dewa makanan. Ia menuliskan kesannya mengenai rujak dalam bukunya Het Leven in Nederlandsch Indië yang dalam waktu singkat menjadi best seller. Veth menceritakan tentang pengalaman para penumpang sebuah kapal yang melakukan perjalanan panjangnya dari Belanda ke Hindia Belanda pada tahun 1900:
“Pagi hari: para penumpang Indo berharap dapat menikmati aneka masakan dengan harga yang murah. Harga khusus kaum Indo. Tentu saja di warung-warung. ‘Barangkali nanti dapat roedjak ya,’, ujar salah seorang dari mereka. Roedjak yang disiapkan dengan jambu atau mangga mengkal. Rasanya cukup asam hingga membuat perut orang Eropa sakit dan nanti di dek kapal mereka akan bergulingan kesakitan seperti kera. Barangkali dapat roedjak kata mereka sambil menahan air liur dan seolah mendesis kepedasan”

Pada masa Tempoe Doeloe yang sering disebut jaman normaal yaitu masa sebelum pecah perang dunia kedua, para sinyo dan noni Indo sering memaksa kokkie mereka untuk membuatkan bumbu rujak dengan buah-buahan yang masih mengkal dari pohon-pohon yang tumbuh di keboen belakang rumah.mereka. Mereka melakukannya dengan sembunyi-sembunyi, si kokkie takut ketahuan nyonya rumah karena pada saat itu adalah jam tidur siang  dan bila ketahuan bisa saja nyonya rumah marah besar karena sinyo dan noni tidak tidur siang. Melanggar aturan.

Dalam adat Jawa, rujak juga diikutsertakan. Seperti pada jamuan upacara memperingati tujuh bulan kehamilan pertama. Tetapi rujak yang dihidangkan dalam upacara ini bukan jenis rujak seperti yang biasa kita nikmati tetapi dalam bentuk seperti minuman manis yang segar. Rujak ini disebut rujak krobo atau gobed yaitu rujak yang terbuat dari bermacam-macam buah-buahan, seperti jeruk bali, delima (Punica granatum) yang dicacah dengan sambal gula yang diberi air asam. Semua ini melambangkan kesegaran. Sedangkan untuk mengetahui jenis kelamin si bayi yang masih dalam kandungan dapat ditandai dengan rasa rujak itu. Rujak itu lalu dihidangkan untuk handai tolan dan tetangga yang menghadiri upacara tersebut. Bila rujak itu terasa pedas, itu suatu tanda bahwa bayi yang dikandung adalah perempuan, sebaliknya bila tidak pedas, maka laki-lakilah bayi itu. Kebiasaan ini masih sering dilakukan baik di desa maupun di kota besar meskipun banyak yang tidak setuju tata cara jamuan ritual animistik ini.

Rujak juga dihidangkan untuk upacara perkawinan adat Jawa. Walaupun untuk yang satu ini tampak jarang dilakukan. Biasanya bila mantu anak sulung, dihidangkanlah rujak manis pada sepasang mempelai itu dan ayah mempelai perempuan. Ibu pengantin perempuan kemudian bertanya: “masih adakah kekurangannya?” . Yang dijawab oleh sang bapak pengantin perempuan; “ tak ada, sudah enak rasanya.” Itu melambangkan bahwa segalanya sudah berlangsung baik tanpa kekurangan dan mereka berharap demikian pula bila mereka mantu lagi.

Bahkan rujak pun dijadikan pola batik yang dikenal dengan nama ‘rujak senté’. Pola batik ini di Yogyakarta dianggap termasuk pola batik ‘larangan’, tidak sembarang orang dapat mengenakannya dan hanya para bangsawan yang diperkenankan mengenakannya. Dalam hal ini pola ‘rujak senté’ hanya boleh dikenakan oleh para anggota keluarga Sultan yang bergelar Raden Mas atau Raden, seperti yang diungkapkan Nyonya Veldhuisen-Djajasoebrata dalam Bloemen van het heelal. De kleurrijke wereld van de textile op Java ( Bunga-bunga semesta. Dunia penuh warna dari tekstil di Jawa).

Musim kemarau ini membuat kita butuh sesuatu yang menyegarkan. Potongan aneka warna buah-buahan segar itu kelihatan begitu menantang. Ditambah guyuran saus sambal berwarna merah kecoklatan di atasnya. Rasanya tak sabar untuk mencicipinya. Ya, itulah rujak,  hidangan yang cocok di saat musim kemarau. Rasanya yang segar, manis dan pedas membuat kita ketagihan walaupun belum tentu cocok bagi lidah Eropa. Tak terasa keringat menetes dan mulut kepedasan.