rujak

RUJAK adalah kekayaan kuliner nusantara. Hampir di setiap pelosok kampung di Jawa, dengan mudah penjual rujak dapat ditemukan. Paling mahal hanya Rp. 5.000,- per pincuk (wadah dari daun pisang), aroma buah mangga muda dan kedondong yang dipadukan dengan manisnya gula merah serta pedasnya cabe rawit akan menggoda selera setiap orang. Sudah pasti, kesegarannya rasanya sangat pas untuk kudapan ringan di siang hari yang terik apalagi jika dinikmati dengan kerupuk dan segelas air es.

Salah satunya adalah rujak bebeg (tumbuk). Keberadaan rujak bebeg cukup mudah dijumpai hampir di setiap daerah terutama kota-kota besar. Konon kabarnya, jenis rujak yang satu ini berasal dari Jawa Barat. Namun ada yang menyebutkan rujak bebeg berasal dari Jawa Tengah, mengingat istilah bebeg dalam kosakata jawa yang berarti tumbuk.

Di dalam tradisi masyarakat jawa, rujak bebeg merupakan salah satu menu wajib untuk merayakan 7 bulan usia kehamilan atau biasa disebut mithuni. Secara turun-temurun, rasa rujak bebeg akan menjadi pertanda jenis kelamin anak yang akan dilahirkan. Jika terasa rujak asin, maka anak perempuanlah yang akan lahir. Namun jika terasa pedas, anak laki-laki yang akan dilahirkan.

Selain masalah tradisi, lantas apa yang menarik dari rujak bebeg dibanding dengan rujak lainnya.

Sulastri, seorang penjual rujak bebeg yang sudah bertahun-tahun mangkal di pertigaan Kodim 0703 Wijayakusuma Cilacap, menuturkan, kelebihan rujak bebeg adalah citarasa kesegaran berbagai jenis buah dan bumbunya jauh lebih menyatu jika dibandingkan dengan rujak lainnya. Selain itu, buah seperti pisang batu dan mengkudu yang memiliki rasa sepet (tawar dengan sedikit rasa kesat) tidak dapat ditemukan selain di dalam rujak bebeg ini sehingga memberikan citarasa yang khas. “Seringkali pembeli meminta pisang batu dan mengkudu dicampur lebih banyak. Katanya agar rasa rujak lebih segar dan khas,” tutur Sulastri.

buah

Karena siang hari itu sangat terik, saya pun tertarik untuk mencobanya. Apalagi setelah melihat segarnya mangga muda, kedondong, pisang batu, mengkudu, nanas muda, belimbing dan lainnya yang sedang dikupas, benar-benar menggugah selera. Dari aroma buah yang tercium, dapat dipastikan kalau seluruhnya masih berupa buah muda yang baru dipetik dari pohonnya.

“Saya buatkan yang pedas ya Mas,” ujar Sulastri. Saya hanya mengangguk tanda setuju.

Bumbu yang digunakan dalam membuat rujak bebeg tergolong sederhana dan mudah didapat dengan harga yang murah. Karena saya meminta rasa yang pedas, Sulastri menambahkan 3 buah cabe keriting merah dan 5 buah cabe rawit. Kemudian sepotong kencur muda, sepotong asam jawa, sebongkah gula merah, 1 sdt terasi, 2 sdt garam dan 1 sdm kacang tanah yang disangrai. Khusus untuk wilayah Karesidenan Banyumas, segala jenis rujak menggunakan kacang sebagai salah satu bumbunya. Setelah semua bumbu ditumbuk, barulah satu demi satu buah-buahan dimasukan ke dalam lumpang (tempat menumbuk dari kayu) untuk selanjutnya ditumbuk hingga hancur kasar dan menyatu dengan bumbunya. Hanya lima menit berselang, sepincuk rujak bebeg tersaji, tentunya dengan aroma buah dan rasa yang pedas namun segar sekaligus manis.

Steve Saputra