PADI EMBER TEBAR BANYAK REBUTAN MAKANAN

Dua setengah bulan lalu saya menanam padi dalam pot sebesar ember dengan cara tebar banyak. Semua tumbuh dan saya biarkan tidak dipindah. Pemeliharaan biasa dengan MOL encer. Awalnya bagus, hijau subur, tetapi lama-lama menjadi kurus, berebut makanan.

Tadinya saya bermaksud menanam padi dengan cara tebar banyak dan bebas tumbuh, tanpa olah, tidak seperti cara standar, hanya sekedar diberi MOL saja tiap 3 (tiga) hari. Dalam umur sebulan nampak tumbuh agak normal, terutama yang di bagian tengah ember. Tetapi padi yang tumbuh di tepi ember sudah nampak tidak sehat, kurus daun-daun menguning.

Lalu saya coba menanam lagi dengan cara tanam satu butir dalam ember lain. Ukuran ember sama, pemeliharaan sama, ala kadarnya, hanya diberi MOL tiap 3 hari. Maksudnya untuk pembanding. Ternyata pada umur 1 bulan padi ember satu butir ini tumbuh tegar, daun hijau subur, ukuran jauh lebih tinggi dari padi tebar banyak (lihat fotonya).

Ketika padi ember satu butir tumbuh berumur satu bulan, maka padi ember tebar banyak ini berumur 3 (tiga) bulan dan seharusnya sudah mulai berbulir. Memang sudah berbulir, tetapi tidak banyak dan malainya pendek-pendek. Setiap rumpun pada padi ember tebar banyak hanya mempunyai 5 (lima) anakan, padahal padi ember satu butir serumpunnya bisa memiliki 40-50 anakan.

Menanam padi di pot atau ember memang cukup satu butir tiap embernya, dirawat dengan baik, di MOL tiap waktu tertentu, hasilnya dapat dipastikan memuaskan, panen bisa 2 ons lebih gabah kering.

TABUNGAN GABAH HASIL PANEN PADI EMBER

Beberapa kali saya telah menanam padi dalam ember. Wadahnya bisa ember, polibeg, karung, atau pot, yang diisi dengan tanah dan kompos buatan sendiri. Saya menggunakan metode tanam 1 (satu) butir gabah (SRI), dipelihara dengan baik, setiap 3 hari sekali diberi MOL.
Padi adalah bukan tanaman air tetapi senang air. Jadi saya tidak merendam padi ember saya dengan air. Saya biarkan tanahnya becek-becek. Benih yang saya tanam adalah benih padi unggul jenis “Sintanur”, yang umurnya 3 bulan sudah bisa dipanen.

Dari berkali-kali menanam padi ember ini, saya selalu panen dengan hasil yang lumayan menurut ukuran saya. Sekali panen dari tiap ember ada yang menghasilkan 2 ons ada yang 2,5 ons gabah kering panen. Kalau diekstrapolasi ke ukuran 1 (satu) hektar sawah, setara dengan panen 20 ton per hektar per sekali panen. Memang luar biasa.

Pada foto terlihat gabah padi hasil panen padi ember yang saya kumpulkan, ada kira-kira 6 ons dari 3 padi ember. Coba kita hitung andaikan kita menanam padi ember atau padi polibeg sebanyak 100 polibeg. Dalam 3 bulan sudah bisa dipanen. Bila rata-rata 1 polibeg 2 ons, maka hasil total sekitar 200 ons atau 20 kg gabah kering panen. Sebanyak 100 polibeg bila ditaruh di pekarangan hanya akan membutuhkan luas sekitar 5 m x 4 m sama dengan 20 m2.

PADI EMBER GENERASI PASCA PANEN

Padi jenis ‘Sintanur’ yang saya tanam di ember telah saya panen, hasilnya lumayan, dua ons padi gabah kering panen. Setelah saya panen, ternyata dari anak-anak batang padi masih ada yang tumbuh. Oleh sebab itu saya rapihkan, dan saya biarkan tumbuh lagi dan di MOL.

Saya ingin tahu produksi padi generasi kedua ini, apakah hasilnya bagus atau tidak. Menurut ahli pertanian tentu mengatakan bahwa rumpun padi generasi kedua ini pasti tidak akan ekonomis.

Namun ini termasuk percobaan, dengan perhatian dan pemeliharaan khusus dengan menambah kompos dan MOL semoga masih bisa tumbuh seperti generasi pertama.

Coba lihat dalam foto, rumpun padi sisa panen ini masih cukup kekar, tentu ada harapan bisa hidup berlanjut. Kita lihat saja perkembangannya, dengan harapan masih bisa menghasilkan padi, walaupun tidak akan sebanyak generasi pertama.